Monday, November 20, 2000

a+ oktober 2000 >> +Stadion Utama Senayan

Stadion Utama Senayan

Teks: Ari Widyati Purwantiasning

Majalah a+ dalam kolom pondasi - Oktober 2000, volume 1 edisi 05

Kata fiktif masuk ke dalam kertas cetak biru lalu menyelami kerangka besi beton stadion olahraga kotamadya yang sedang di las sore hari, bunga apinya bepercikan ke segala arah seperti kunang-kunang merah tapi padam sebelum mencapai tanah……

Dua belas bulan kemudian stadion itu ambruk berselengkang patah-patah pada acara musik keras yang dua belas ribu penontonnya sangat marah dan semua menyumpah-nyumpah, kaca mobil parkir dipecah dan polisi menyerah kalah……………..

Gemuruh dan gempita sorak sorai penonton membahana di seluruh sudut Stadion Utama Senayan. Begitulah yang terjadi setiap football season ataupun sport season masuk dalam agenda wajib para penggemarnya. Namun apakah setiap orang pernah menjajagi keberadaan Stadion Utama Senayan ini dan menelusuri sehingga mendapatkan suatu pengalaman ruang tersendiri? Kali ini saya akan mencoba menyentuh keberadaannya di balik kemegahan Stadion Utama yang menjadi pusat olahraga santai untuk semua kalangan setiap akhir minggunya.

Nama Gelanggang Olah Raga Senayan yang biasanya lebih dikenal orang sebagai Gelora Senayan sebenarnya mencakup semua gelanggang olah raya yang berlokasi di daerah Senayan. Nama Gelora Senayan pernah diminta oleh pihak keluarga Bung Karno untuk diganti menjadi Gelora Bung Karno (ternyata bukan hanya Suharto yang narsis). Kompleks ini memiliki sarana dan prasarana olah raga termasuk kompleks perkampungan bagi para atlet yang sangat lengkap termasuk sebuah hotel. Di dalam kompleks ini Stadion Utama Senayan merupakan bangunan utama yang menjadi bagian terpenting dari kompleks gelanggang olah raga ini.

Salah satu keistimewaan dari Stadion Utama ini adalah segi arsitekturalnya. Stadion Utama Senayan dibangun dengan mengangkat arsitektur kuda-kuda temu gelang sebagai struktur utamanya. Pada saat Stadion Utama dibangun pertama kalinya, bentuk arsitektur dengan struktur kuda-kuda temu gelang ini, merupakan salah satu teknologi yang canggih yang jarang digunakan di seluruh dunia. Karena bentuk utama dari massa bangunan gubahan ini berbentuk ellipse dan bentangannya sangat besar, stadion ini memerlukan suatu struktur khusus. Pada saat itulah Stadion Utama Senayan menggunakan struktur utama kuda-kuda temu gelang sebagai atap penutup stadion yang berbentuk ellipse. Patut diketahui bahwa kebanyakan stadion sepakbola dan olahraga lain di dunia lebih banyak yang menggunakan bentuk rectangular, horse shoe, U-shaped dan banyak lagi bentuk yang digunakan berbeda-beda di setiap tempat, yang jelas bentuk ellipse cukup jarang digunakan.

Stadion Utama Senayan ini dibangun pada tahun 1960 ketika Indonesia mendapat suatu kehormatan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games IV pada tahun 1962. Kita boleh bangga dengan keberadaan Stadion Utama Senayan, karena bangunan ini merupakan salah satu stadion sepak bola terbesar dan termegah di Asia dengan kapasitas penonton 110.000 orang. Dan tentu saja seluruh sudut dari stadion akan terasa sempit dan sesak pada saat musim sepakbola mulai merebak karena bukan hanya penduduk Jakarta yang memeriahkannya, tapi juga para bonek yang berdatangan dari luar kota tidak tinggal diam ikut serta dalam pesta musim sepakbola ini.
Karena kemegahan dari bangunan ini, disamping untuk penyelenggaraan pesta olah raga, stadion ini sering dipakai untuk upacara besar (dari Ulang Tahun PKI sampai Istighosah NU) dan juga pertunjukkan seni kolosal (dari mulai Marching Band sampai Mick Jagger). Oleh karena itu pada tempatnyalah bila seorang arsitek harus memikirkan standar yang harus digunakan dalam perancangan sebuah stadion olahraga. Karena pada keadaan tertentu, sebuah stadion harus mempunyai standar sehingga dapat digunakan untuk kompetisi olimpiade dan kegiatan keolahragaan penyandang cacat.

Pada Stadion Utama Senayan, dapat ditemukan adanya penggabungan lapangan sepakbola dengan lintasan lari di sekelilingnya. Hal ini merupakan penyesuaian terhadap standar atletik internasional yang dapat menentukan ukuran lapangan olahraga tersebut yaitu bentuk dasar ellipse. Umumnya, stadion dibentuk dengan menggali suatu lokasi dan semua bagian tribun (panggung) dibangun menyentuh tanah. Tetapi kemungkinan besar, terbatasnya kemampuan, biaya dan juga mungkin karena keadaan tanah setempat yang tidak memungkinkan, menyebabkan Stadion Utama Senayan dibangun dengan menggunakan struktur utama kuda-kuda temu gelang, tanpa harus membuat galian atau mengorek bagian tanah seperti kolam. Dengan bentuk bangunan megah berbentang besar, atap yang menutupi sebagian Stadion Utama Senayan, yaitu bagian tribun penonton, terlihat melingkar seakan-akan seperti sebuah gelang yang melingkar di pergelangan tangan. Hal inilah yang menyebabkan mengapa struktur utama tersebut disebut sebagai kuda-kuda temu gelang. Karena struktur kantilever dari atap melingkar seperti gelang.

Di samping itu, berdasarkan rencana tata kota sebuah stadion hendaknya terpadu dengan lingkungan sekitarnya dengan prasarana jalan yang mudah untuk lalulintas dan pengiriman perbekalan. Hal ini tentu saja dapat terlihat jelas, Stadion Utama Senaya sengaja di’letak’kan di antara jalan utama Sudirman dan Asia Afrika. Selain itu, hal yang dominan adalah keberadaan stadion ini yang jauh dari lingkungan industri yang mencemarkan, yang juga sesuai dengan standar internasional yang ditetapkan untuk pembangunan sebuah stadion olah raga.

Arsitek kuno Vitruvius yang hidup pada abad pertama SM, mengatakan bahwa deretan bangku dan teras berdiri hendaknya mempunyai kemiringan rata-rata yang tetap, hal ini dimaksudkan sesuai dengan alasan peredaman suara dan juga sudut serta jarak pandang penonton. Namun karena munculnya teknologi pengeras suara yang sangat membantu, hal ini tidak lagi menjadi hal yang dominan untuk menjadi pertimbangan. Hal utama yang terlihat di Stadion Utama Senayan adalah pertimbangan akan sudut dan jarak pandang penonton. Jangan sampai deretan bangku-bangku penonton terletak di samping dinding yang cukup tinggi yang akhirnya menutupi pandangan penonton untuk melihat lambungan bola Bima Sakti.

Satu hal lagi yang juga penting untuk dilihat adalah penyediaan fasilitas umum seperti toilet. Sayang, tampaknya fasilitas wajib satu ini belum tersedia cukup banyak dan juga radiusnya relatif agak jauh dari tribun Stadion Utama Senayan. Problem ini jelas terlihat ketika musim pesta olahraga berlangsung, penonton yang membutuhkan fasilitas tersebut banyak yang memilih untuk tidak menggunakan toilet sebagaimana mestinya. Tetapi mereka, khususnya kaum Adam lebih memilih untuk mengotori dinding-dinding struktur Stadion Utama daripada pergi ke toilet untuk buang hajat. Saya tidak dapat menyalahkan kedua pihak baik para pengguna ataupun juga pengelola bangunan itu sendiri. Karena kemungkinan besar masyarakat kita memang belum mengerti pentingnya kebersihan.

Stadion Utama yang menjadi simbol prestasi olah raga nasional para atlet Indonesia ini, merupakan bangunan yang juga menjadi saksi bisu semua peristiwa baik kegiatan olah raga maupun kegiatan lainnya yang pernah atau sedang berlangsung di dalamnya. Hal ini tentu saja bukan tujuan utama arsiteknya, dan tentu saja Stadion Utama Senayan ini dibangun tidak hanya sebagai simbol individu arsiteknya tetapi juga sebagai bangunan yang mempunyai ruang-ruang fungsional yang menunjang seluruh kegiatan yang dilaksanakan di dalamnya. Jika kita memasuki bangunan Stadion Utama Senayan ini, tentu saja kita akan merasa hanya sesosok benda kecil dibandingkan dengan kemegahan bangunan ini. Semoga saja hal itu benar adanya, bahwa Stadion Utama Senayan ini bukan merupakan pengejawantahan dari sebuah ekspresi keangkuhan sebuah individu. Karena sejarah telah banyak membuahkan bukti-bukti nyata bahwa terkadang arsitektur menjadi sebuah bentuk penyelewengan dan sebagai alat untuk mengekspresikan sebuah keangkuhan.

Satu hal lagi yang belum terpikirkan selama ini adalah kenyataan bahwa bangunan ini hanya digunakan pada moment tertentu yang memerlukan suatu ruang yang besar sekali. Tentu saja Stadion Utama ini dapat dimasuki oleh semua orang dari seluruh kalangan publik, tetapi apakah seluruh kegiatan tersebut berlangsung secara periodical dan frequently? Tentu saja hal ini akan mempengaruhi aspek building management yang juga akan berpengaruh pada nilai bangunan tersebut. Bagaimanakan caranya membudayakan public facility ini menjadi hal yang juga penting untuk digunakan tidak hanya pada saat pesta olah raga berlangsung? Mungkin dengan menyediakan suatu sarana yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari seperti pemanfaatan beberapa ruang yang ada di Stadion Utama Senayan tersebut sebagai museum sepakbola misalnya ataupun museum olah raga nasional. Hal seperti ini akan sedikit membantu dalam merawat dan mengekspresikan suatu hasil arsitektur yang menjadi simbol olah raga nasional negara kita. Bukan sebagai bangunan stadion semu yang hanya berfungsi pada saat-saat tertentu, tetapi lebih kepada sebagai suatu Stadion Utama yang hidup dan selalu ekspresif serta fungsional.

Di lapangan parkir mahasiswa terbenam kesibukan membawa kain rentang panjang penuh alfabet kapital dan tanda seru ancaman, besok malam dimaksudkan sekaligus menjadi kain kafan, berdesak-desak riuh rendah menggergaji batang leher fiktif, kenyal luar biasa....

Mana bisa..

Taufik Ismail, 1998



Jakarta, September 2000

No comments: